GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN
"Awalnya Desa ini adalah kawasan hutan tak berpenghuni, hingga akhirnya sekelompok masyarakat Soppeng bermigrasi dan membuat koloni di wilayah ini, hal ini didasari oleh kejenuhan penduduk"
"Awalnya Desa ini adalah kawasan hutan tak berpenghuni, hingga akhirnya sekelompok masyarakat Soppeng bermigrasi dan membuat koloni di wilayah ini, hal ini didasari oleh kejenuhan penduduk"
- Keadaan Geografis
Letak administratif situs
bukit Pongka berada di wilayah Kabupaten Bone Kecamatan Tellu Siattinge. Kabupaten
Bone terletak di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu sekitar ±174 km dari Kota Makassar.
Letak astronomis berada pada titik 4° 13’ sampai 5° 06’ Lintang Selatan dan
119° 42’ sampai 120° 40’ Bujur Timur. Batas wilayah meliputi; Kabupaten Wajo
dan Soppeng di bagian utara, di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten
Sinjai dan Gowa, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep dan
Barru dan sebelah Timur berbatasan langsung dengan Teluk Bone atau Lamunrebugis
dan Watubangga provinsi Sulawesi Tenggara. Luas wilayah Kabupaten Bone 4.599
km2 atau sekitar 7,3% dari luas Propinsi Sulawesi Selatan, terdiri atas 27
kecamatan dan terbagi dalam 333 desa dan 39 kelurahan, dengan jumlah dusun
sebanyak 888 dan lingkungan sebanyak 121.
Wilayah Kabupaten Bone
terdapat pegunungan dan perbukitan yang dari celah-celahnya terdapat aliran
sungai. Kondisi sungai yang berair pada musim hujan kurang lebih 90 buah, namun
pada musim kemarau sebagian mengalami kekeringan, kecuali sungai yang cukup
besar, seperti Sungai Walanae, Cenrana, Palakka, Jaling, Bulubulu, Salomekko,
Tobunne dan Sungai Lekoballo. Daerah Bone termasuk daerah beriklim sedang.
Kelembaban udara berkisar antara 95% sampai 99% dengan temperatur berkisar 26°C
sampai 43°C. Pada periode April hingga September, bertiup angin timur yang
membawa hujan, sebaliknya pada Bulan Oktober hingga Maret bertiup angin barat
yang membuat Kabupaten Bone mengalami musim kemarau.
Jenis tanah yang ada di
Kabupaten Bone terdiri dari tanah Aluvial atau disebut juga tanah entisol. Jenis tanah ini memiliki
kesuburan yang cukup, sehingga cocok untuk dimanfaatkan sebagai hutan atau
usaha pertanian[1]. Jenis tanah lain
yang terdapat di daerah ini adalah gleyhumus,
litosol, regosol, grumosol, mediteran dan renzina. 67,6% dari total wilayah kabupaten
Bone didominasi oleh jenis tanah Mediteran, kemudian Renzina 9,59% dan Litosol
9%, sedangkan sepanjang Pantai Timur Teluk Bone ditemukan tanah jenis Aluvial.
Wilayah Kecamatan Tellu
Siattinge dibatasi oleh Kecamatan Dua Boccoe di sebelah utara, sebelah timur berbatasan
dengan Kecamatan Cenrana dan Teluk Bone, bagian selatan berbatasan langsung
dengan Kecamatan Awangpone dan Kecamatan Amali dan Kecamatan Ulaweng. Kecamatan
ini memiliki luas 159,30 km2 atau
3,49% dari luas Kabupaten Bone, memiliki 15 desa, 2 kelurahan, 53 dusun dan 4 lingkungan.
Penduduk Kecamatan Tellu Siattinge sebanyak 42.056 jiwa yang terdiri dari
laki-laki sebanyak 19.652 dan perempuan sejumlah 22.404. Produksi padi di
kecamatan ini menghasilkan 38.675 ton dari lahan panen seluas 6.931 ha,
produksi jagung menghasilkan 30.978 ton dari luas lahan panen 5.746 hektar,
Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan ini adalah; alluvial seluas 1.250 km2, gleihumus seluas 5.626 km2, regosol
seluas 558 km2, grumosol
seluas 1.245 km2, komplek rasial
dan litosol luasnya 1.361 km2
serta mediteran luasnya 5.890 km2,
sedangkan untuk jenis tanah litosol
dan latosol tidak terdapat di wilayah
Tellu Siattinge.
Lokasi
sebaran temuan tembikar situs bukit Pongka berjarak 290 meter ke arah 190o
dari kantor Desa Pongka. Distribusi sebaran pecahan tersebut, berada pada
permukaan bukit yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan kebun jagung.
Ketinggian lokasi temuan sebaran tembikar mulai dari 120 sampai 170 meter di
atas permukaan laut. Selain tembikar, terdapat juga temuan lain seperti;
terakota, stoneware, pecahan porselin, makam islam, benda yang terbuat dari
besi dan baruga yang dipercaya masyarakat sebagai pusat pemerintahan di Pongka
masa lalu.
Proses
pengumpulan sampel tembikar di situs Pongka[2],
dilakukan dengan membagi daerah konsentrasi distribusi pecahan tembikar ke
dalam 4 sektor, kemudian ditambah sejumlah sampel yang berasal dari hasil
pengumpulan saat survei awal yang diberi nama sektor 0. Pembagian sektor pada
situs Pongka, dilakukan berdasarkan pertimbangan terpisahnya titik sebaran
pecahan pada saat ditemukan, namun tetap berada di dalam cakupan wilayah situs
pongka.
2. Sejarah Pongka
Masyarakat
Desa Pongka tidak memiliki naskah sejarah, hal ini berbeda dengan daerah lain
di Sulawesi Selatan yang mengenal lontara,
tidak adanya naskah tertulis yang dikenal oleh masyarakat di desa
tersebut, merupakan kesulitan tersendiri dalam melacak asal-usul pemukiman kuna
yang berada di Pongka. Satu-satunya sumber sejarah yang dapat dijadikan
petunjuk adalah folklor[3]
yang diperoleh saat survei awal
dilakukan (tahun 2011), dari Kepala Desa Pongka, ditambah hasil
wawancara dengan kakek yang bernama La Talibe, umur +100 tahun (kondisi
informan tuli tapi daya ingat masih tajam).
Folklor
tersebut menceritakan bahwa, Desa Pongka sekarang merupakan pemukiman baru yang
dihuni oleh kelompok migran yang berasal dari Kerajaan Soppeng tepatnya di
Baringeng. Penduduk Baringeng melakukan migrasi pada masa itu, disebabkan oleh
kekecewaan terhadap pemerintahan Kerajaan Soppeng. Kesemena-menaan Kerajaan
Soppeng terhadap masyarakat Baringeng yaitu, penindasan, pemerkosaan, dan
pemaksaan. Sakit hati sejumlah orang tua, ketika terpaksa menyerahkan anak–anak
gadisnya yang sedang mekar untuk disantap oleh punggawa-punggawa yang kejam di
wilayah itu. Tidak tahan terhadap penyiksaan yang berlarut, rakyat di bawah
koordinasi seorang panglima perang bernama Petta
Makkuli Lajengnge dan rekannya Petta
Pabbaranie melakukan perlawanan frontal terhadap pemerintah yang berkuasa,
yaitu dengan menghadap kepada pemerintah kerajaan soppeng dan melaporkan
keluhan masyarakat. Tidak mendapat respon baik dari kerajaan, maka sebagai
bentuk perlawanan terhadap pemerintah sebagian masyarakat yang dipimpin oleh
panglima tadi mengambil keputusan untuk
meninggalkan kampung Baringeng. Konon petunjuk masyarakat Baringeng
dalam mencari pemukiman baru yaitu menggunakan sebuah “gendang ajaib”. Setiap
menemukan wilayah yang sepintas dianggap cocok untuk dimukimi, para migran
membunyikan gendang tersebut, jika gendang ajaib mengeluarkan bunyi yang
monoton dengan gema yang panjang, maka lokasi yang mereka singgahi tersebut
belum ideal untuk ditinggali. Tiba pada suatu lokasi yang lain, gendang ajaib
kembali mereka bunyikan, ternyata suara yang keluar lain dari yang sebelumnya,
bunyinya mirip dengan suara kang-kang-kang.
Suara tersebut diartikan dalam suku kata bahasa Bugis sebagai ENGKA atau ENGKAU
AJUDO dalam bahasa Indonesia berarti ADA, karena itu daerah ini kemudian
dinamakan PONGKA yang dimaknai dasar
kemakmuran. Tanpa menunggu lama, pimpinan rombongan mengirim utusan untuk
menghadap Datu Ulu Kerajaan Bone, untuk meminta izin. Rencana mereka untuk
menetap disetujui Raja Bone[4].
Sejak itulah, penduduk pindahan ini memulai sejarahnya di Pongka. Sekian lama
bermukim di Pongka, kebencian masyarakat pada saat itu tidak hilang, terbukti
rumah-rumah dibangun pantang satupun yang menghadap ke arah Soppeng. Tiap
tahunya masyarakat Pongka melakukan pesta adat sijujju sulo[5] untuk
memperingati hari migrasinya yang besejarah di Pongka.
[2] Secara teknis, survei
yang dilakukan di permukaan situs bukit Pongka tidak dengan maksimal,
dikarenakan sebagian titik sebaran pecahan tembikar tertutupi oleh tanaman
jagung masyarakat setempat, oleh sebab itu titik-titik sebaran pecahan tembikar
tidak terokupasi secara menyeluruh.
[3] Folklor
merupakan tradisi lisan
atau cerira rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
[4] bahkan
raja Bone memberikan hak-hak tertentu kepada masyarakat Pongka, dalam membuat
aturannya sendiri. Berdasarkan hasil wawancara, sejak saat itu sampai sekarang
orang yang memiliki gelar kebangsawanan Bugis, ketika masuk di Pongka hanya
akan disebut namanya, tanpa sebutan gelar apapun.
[5] Hingga kini
acara sijujju sulo digelar tiap tiga
tahun sekali.

