Thursday, October 25, 2012

Situs Bukit Pongka



GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN

"Awalnya Desa ini adalah kawasan hutan tak berpenghuni, hingga akhirnya sekelompok masyarakat Soppeng bermigrasi dan membuat koloni di wilayah ini, hal ini didasari oleh kejenuhan penduduk"

  1. Keadaan Geografis
Letak administratif situs bukit Pongka berada di wilayah Kabupaten Bone Kecamatan Tellu Siattinge. Kabupaten Bone terletak di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu sekitar ±174 km dari Kota Makassar. Letak astronomis berada pada titik 4° 13’ sampai 5° 06’ Lintang Selatan dan 119° 42’ sampai 120° 40’ Bujur Timur. Batas wilayah meliputi; Kabupaten Wajo dan Soppeng di bagian utara, di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai dan Gowa, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep dan Barru dan sebelah Timur berbatasan langsung dengan Teluk Bone atau Lamunrebugis dan Watubangga provinsi Sulawesi Tenggara. Luas wilayah Kabupaten Bone 4.599 km2 atau sekitar 7,3% dari luas Propinsi Sulawesi Selatan, terdiri atas 27 kecamatan dan terbagi dalam 333 desa dan 39 kelurahan, dengan jumlah dusun sebanyak 888 dan lingkungan sebanyak 121.
Wilayah Kabupaten Bone terdapat pegunungan dan perbukitan yang dari celah-celahnya terdapat aliran sungai. Kondisi sungai yang berair pada musim hujan kurang lebih 90 buah, namun pada musim kemarau sebagian mengalami kekeringan, kecuali sungai yang cukup besar, seperti Sungai Walanae, Cenrana, Palakka, Jaling, Bulubulu, Salomekko, Tobunne dan Sungai Lekoballo. Daerah Bone termasuk daerah beriklim sedang. Kelembaban udara berkisar antara 95% sampai 99% dengan temperatur berkisar 26°C sampai 43°C. Pada periode April hingga September, bertiup angin timur yang membawa hujan, sebaliknya pada Bulan Oktober hingga Maret bertiup angin barat yang membuat Kabupaten Bone mengalami musim kemarau.
Jenis tanah yang ada di Kabupaten Bone terdiri dari tanah Aluvial atau disebut juga tanah entisol. Jenis tanah ini memiliki kesuburan yang cukup, sehingga cocok untuk dimanfaatkan sebagai hutan atau usaha pertanian[1]. Jenis tanah lain yang terdapat di daerah ini adalah gleyhumus, litosol, regosol, grumosol, mediteran dan renzina. 67,6% dari total wilayah kabupaten Bone didominasi oleh jenis tanah Mediteran, kemudian Renzina 9,59% dan Litosol 9%, sedangkan sepanjang Pantai Timur Teluk Bone ditemukan tanah jenis Aluvial.
Wilayah Kecamatan Tellu Siattinge dibatasi oleh Kecamatan Dua Boccoe di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cenrana dan Teluk Bone, bagian selatan berbatasan langsung dengan Kecamatan Awangpone dan Kecamatan Amali dan Kecamatan Ulaweng. Kecamatan ini memiliki luas 159,30 km2 atau 3,49% dari luas Kabupaten Bone, memiliki 15 desa, 2 kelurahan, 53 dusun dan 4 lingkungan. Penduduk Kecamatan Tellu Siattinge sebanyak 42.056 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 19.652 dan perempuan sejumlah 22.404. Produksi padi di kecamatan ini menghasilkan 38.675 ton dari lahan panen seluas 6.931 ha, produksi jagung menghasilkan 30.978 ton dari luas lahan panen 5.746 hektar, Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan ini adalah; alluvial seluas 1.250 km2, gleihumus seluas 5.626 km2, regosol seluas 558 km2, grumosol seluas 1.245 km2, komplek rasial dan litosol luasnya 1.361 km2 serta mediteran luasnya 5.890 km2, sedangkan untuk jenis tanah litosol dan latosol tidak terdapat di wilayah Tellu Siattinge.
Foto : Keletakan situs bukit Pongka di Desa Pongka
Lokasi sebaran temuan tembikar situs bukit Pongka berjarak 290 meter ke arah 190o dari kantor Desa Pongka. Distribusi sebaran pecahan tersebut, berada pada permukaan bukit yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan kebun jagung. Ketinggian lokasi temuan sebaran tembikar mulai dari 120 sampai 170 meter di atas permukaan laut. Selain tembikar, terdapat juga temuan lain seperti; terakota, stoneware, pecahan porselin, makam islam, benda yang terbuat dari besi dan baruga yang dipercaya masyarakat sebagai pusat pemerintahan di Pongka masa lalu.
Proses pengumpulan sampel tembikar di situs Pongka[2], dilakukan dengan membagi daerah konsentrasi distribusi pecahan tembikar ke dalam 4 sektor, kemudian ditambah sejumlah sampel yang berasal dari hasil pengumpulan saat survei awal yang diberi nama sektor 0. Pembagian sektor pada situs Pongka, dilakukan berdasarkan pertimbangan terpisahnya titik sebaran pecahan pada saat ditemukan, namun tetap berada di dalam cakupan wilayah situs pongka.
 
Gambar  : Peta situs bukit Pongka

      2.  Sejarah Pongka
Masyarakat Desa Pongka tidak memiliki naskah sejarah, hal ini berbeda dengan daerah lain di Sulawesi Selatan yang mengenal lontara,  tidak adanya naskah tertulis yang dikenal oleh masyarakat di desa tersebut, merupakan kesulitan tersendiri dalam melacak asal-usul pemukiman kuna yang berada di Pongka. Satu-satunya sumber sejarah yang dapat dijadikan petunjuk adalah folklor[3] yang diperoleh saat survei awal dilakukan (tahun 2011), dari Kepala Desa Pongka, ditambah  hasil  wawancara dengan kakek yang bernama La Talibe, umur +100 tahun (kondisi informan tuli tapi daya ingat masih tajam).
Folklor tersebut menceritakan bahwa, Desa Pongka sekarang merupakan pemukiman baru yang dihuni oleh kelompok migran yang berasal dari Kerajaan Soppeng tepatnya di Baringeng. Penduduk Baringeng melakukan migrasi pada masa itu, disebabkan oleh kekecewaan terhadap pemerintahan Kerajaan Soppeng. Kesemena-menaan Kerajaan Soppeng terhadap masyarakat Baringeng yaitu, penindasan, pemerkosaan, dan pemaksaan. Sakit hati sejumlah orang tua, ketika terpaksa menyerahkan anak–anak gadisnya yang sedang mekar untuk disantap oleh punggawa-punggawa yang kejam di wilayah itu. Tidak tahan terhadap penyiksaan yang berlarut, rakyat di bawah koordinasi seorang panglima perang bernama Petta Makkuli Lajengnge dan rekannya Petta Pabbaranie melakukan perlawanan frontal terhadap pemerintah yang berkuasa, yaitu dengan menghadap kepada pemerintah kerajaan soppeng dan melaporkan keluhan masyarakat. Tidak mendapat respon baik dari kerajaan, maka sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah sebagian masyarakat yang dipimpin oleh panglima tadi mengambil keputusan untuk  meninggalkan kampung Baringeng. Konon petunjuk masyarakat Baringeng dalam mencari pemukiman baru yaitu menggunakan sebuah “gendang ajaib”. Setiap menemukan wilayah yang sepintas dianggap cocok untuk dimukimi, para migran membunyikan gendang tersebut, jika gendang ajaib mengeluarkan bunyi yang monoton dengan gema yang panjang, maka lokasi yang mereka singgahi tersebut belum ideal untuk ditinggali. Tiba pada suatu lokasi yang lain, gendang ajaib kembali mereka bunyikan, ternyata suara yang keluar lain dari yang sebelumnya, bunyinya mirip dengan suara kang-kang-kang. Suara tersebut diartikan dalam suku kata bahasa Bugis sebagai ENGKA atau ENGKAU AJUDO dalam bahasa Indonesia berarti ADA, karena itu daerah ini kemudian dinamakan PONGKA yang dimaknai dasar kemakmuran. Tanpa menunggu lama, pimpinan rombongan mengirim utusan untuk menghadap Datu Ulu Kerajaan Bone, untuk meminta izin. Rencana mereka untuk menetap disetujui Raja Bone[4]. Sejak itulah, penduduk pindahan ini memulai sejarahnya di Pongka. Sekian lama bermukim di Pongka, kebencian masyarakat pada saat itu tidak hilang, terbukti rumah-rumah dibangun pantang satupun yang menghadap ke arah Soppeng. Tiap tahunya masyarakat Pongka melakukan pesta adat sijujju sulo[5] untuk memperingati hari migrasinya yang besejarah di Pongka.






[2] Secara teknis, survei yang dilakukan di permukaan situs bukit Pongka tidak dengan maksimal, dikarenakan sebagian titik sebaran pecahan tembikar tertutupi oleh tanaman jagung masyarakat setempat, oleh sebab itu titik-titik sebaran pecahan tembikar tidak terokupasi secara menyeluruh.
[3] Folklor merupakan tradisi lisan atau cerira rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
[4] bahkan raja Bone memberikan hak-hak tertentu kepada masyarakat Pongka, dalam membuat aturannya sendiri. Berdasarkan hasil wawancara, sejak saat itu sampai sekarang orang yang memiliki gelar kebangsawanan Bugis, ketika masuk di Pongka hanya akan disebut namanya, tanpa sebutan gelar apapun.
[5] Hingga kini acara sijujju sulo digelar tiap tiga tahun sekali.